EMPAT FASE SEJARAH TERBENTUKNYA BANGSA BATAK

Horas ma dihita saluhutna.
Akhir akhir ini, kita dihadapkan pada pernyataan mereka yang anti Batak, bahwa sesungguhnya Batak itu adalah rekayasa pemerintah Belanda untuk memecah belah kita. Leluhur orang Batak hanyalah mytos. Menghadapi hal ini sudah saatnya seluruh puak Batak harus saling bergandeng tangan dan  berusaha mencari jatidiri kita sebagai orang Batak. Tetapi  ironisnya mereka yang anti Batak tersebut adalah anak cucu mereka yang pernah di beri penghidupan, diberi tanah untuk hidup serta diberikan marga oleh ompung-ompung kita dahulu. Namun kita juga memakluminya karena ternyata merekapun sedang sibuk mempelajari keberadaan leluhur mereka yang tidak jelas asal usulnya. Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjawab semua tuduhan-tuduhan mereka kepada kita, serta dapat menambah keyakinan mengenai keberadaan leluhur kita ditanah Batak ini.  

Untuk mempermudah dalam mempelajari serta meneliti terbentuknya masyarakat Batak, kita dapat  membagi menjadi 4 fase yaitu dimulai dari kedatangan leluhur Bangsa Batak ke Nusantara hingga pada masa sekarang ini. Para ahli sejarah menggolongkan bangsa Batak sebagai PROTO MELAYU atau Melayu tua.  Mengenai pembagian fase terbentuknya masyarakat Batak, hal ini berdasarkan  beberapa referensi dari para ahli sejarah. Akan tetapi  dalam mempelajari tentang suatu suku bangsa, tidak mungkin  kalau hanya mengandalkan pendapat para ahli sejarah saja yang lebih terfokus pada hal-hal yang bersifat umum. Sehingga mau tidak mau kita harus menggunakan tarombo atau silistilah batak itu sendiri sebagai  pembanding terhadap pendapat para ahli tsb. Selain itu tidak mungkin pula kita mempelajari sejarah masyarakat batak tanpa menggunakan tarombo batak yang merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Penggunaan tarombo sebagai pembanding bukanlah dimaksudkan sebagai suatu pembenaran terhadap tarombo itu sendiri apalagi terhadap hal-hal yang berbau mitos atau cerita rakyat semata, tetapi sebagai cross check terhadap apa yang ditulis dalam tarombo Batak tersebut. Sebagai pembanding saya menggunakan tarombo marga Pulungan dari Hutabargot Mandailing, yang disusun oleh H.A.K PULUNGAN, karena saya menganggap bahwa tarombo mereka lebih netral dibandingkan kalau saya menggunakan tarombo yang disusun oleh orang Angkola ataupun Toba.

Selama ini kita mengalami kesulitan dalam mempelajar terbentuknya masyarakat Batak, penyebabnya antara lain:
 PERTAMA, karena kita melihat Suku Batak  secara sepenggal sepenggal, dan tidak melihat Batak secara keseluruhan yang utuh, Misalnya orang Mandailing hanya melihat dari sisi Mandailing saja, orang Angkola hanya melihat seputar Angkola saja, itupun hanya melihat pada kondisi sekarang ini, tanpa melihat bagaimana masyarakat Batak tersebut baik secara keseluruhan maupun setelah terpecah-pecah menjadi puak-puak Batak seperti sekarang ini. Karena pada dasarnya puak yang satu mempunyai keterkaitan dengan puak yang lain, gabungan dari puak puak inilah yang kemudian membentuk suatu komunitas yang satu yaitu masyarakat Batak, dengan leluhur yang sama. 
KEDUA : Kita selama ini tidak pernah membagi-bagi masa terbentuknya masyarakat Batak, semenjak kedatangan leluhur kita dahulu ke kepulauan Nusantara ini, hingga eksistensinya sampai sekarang. Kita sering berdebat dengan mereka yang tidak mengakui Batak, kapankah leluhur pertama orang Batak tersebut berada di Pulau Sumatra. Kita sesama Batak pun sering berdebat mengenai, darimanakah asal usul orang Batak, atau Siraja Batak, apakah dari Selatan ke Utara atau dari Utara ke selatan. Kita memperdebatkan hal ini, seolah olah menganggap bahwa perkembangan masyarakat Batak, seperti sebuah garis lurus yang linier hanya ada 2 tempat yang berbeda UTARA atau SELATAN, maupun ANGKOLA atau TOBA. Padahal kita lupa bahwa terbentuknya masyarakat Batak seperti yang sekarang  yang terdiri dari TOBA, ANGKOLA, MANDAILING, SIMALUNGUN, KARO dan PAKPAK, tidak terjadi sekonyong konyong, tetapi berlangsung selama ribuan tahun lamanya, jadi perkembangan masyarakat Batak bukan seperti layaknya garis lurus yang linier, tetapi merupakan lingkaran atau siklus antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain, dimana Bangsa batak telah banyak mengalami pasang surut dalam perjalanan sejarahnya. 

Berdasarkan penelitian para ahli sejarah, Bangsa Batak yang terdiri dari 5 puak tersebut adalah serumpun dan mempunyai leluhur yang sama, namun karena telah melalui masa yang begitu lama adalah wajar apabila ada perbedaan antara satu dengan yang lain.

Asal Mula Leluhur Masyarakat Batak
Didalam tarombo marga Pulungan disebutkan bahwa kata “Batak” berasal dari kata BONTOK, yaitu suatu suku bangsa di daratan Asia yang terbentuk 6000 tahun yang silam di perbatasan Thailand-Birma (Myanmar sekarang), yang disebut  Austro-Asia atau Austronesia, yang kemudian berkembang menjadI bangsa-bangsa antara lain; Karen, Igorot, Bontok, Tayal, Meo, Wajo, Toraja dan Syan yang selalu disebut Siam. Bontok berkembang menjadi Tagalok Philipina, Batak, Bone/Bugis, Komering Ulu dan Ilir, Rejang Lebong Sumbai (Sungkai) dan Raja Manggala di Lampung Utara

Leluhur orang Batak kemudian mengembara, dan akhirnya mendarat di Barus dan dari sana terus menyusur ke pedalaman, akhirnya menemukan Sianjur Mula Jadi Nabolon dan dari sinilah berkembang keseluruh Batak (Botok) yang berasal dari Austronesia yang berdiam diperbatasan Thailand dengan Birma, perpisahan Batak denganTagalok Philipina 3.000 tahun silam di Semananjung Malaya (Malaysia) sekarang, dan akhirnya mereka menemukan pulau Luzon-Philipina.

FASE PERTAMA (1000 SM – 100 M)
Ini adalah fase awal terbentuknya masyarakat  Batak yang dimulai setelah mendaratnya leluhur orang Batak di Pulau Sumatra, seperti yang diuraikan diatas, Masa atau fase ini adalah masa pra sejarah, tidak banyak bukti-bukti sejarah yang ditemukan, meskipun ada, hanya berupa benda-benda purbakala peninggalan zaman Megalitikum. Hal inilah yang menjadi alasan para ahli memasukkan suku Batak sebagai Melayu tua. Jadi dapat disimpulkan bahwa leluhur orang Batak adalah manusia pertama yang berada di pulau Sumatra pada waktu itu yang kemudian berkembang hingga sekarang. Yang termasuk Proto Melayu yang lain diantaranya suku Dayak di Kalimantan dan Suku Toraja di Sulawesi. Mengingat mereka sudah ribuan tahun yang silam berada di nusantara ini, salah satu ciri dari mereka ialah bahwa suku Melayu tua ini mendiami wilayah pedalaman atau pegunungan. Kedua leluhur mereka meninggalkan peninggalan purbakala yaitu kebudayaan megalitikum, misalnya di Samosir ditemukannya Batu Hobon atau batu kubur, tempayan, kapak dan sebagainya yang terbuat dari batu.

Siraja Batak adalah tokoh sentral orang Batak, yang dipercaya kemudian menurunkan suku Batak, namun kita harus bijak dalam memaknai mengenai Siraja Batak tersebut diantaranya sebagai berikut:
 Siraja Batak adalah bukan individu tunggal, artinya bukan orang yang sama antara Siraja Batak yang merupakan leluhur orang Batak yang pertama mendarat di Pulau Sumatra dengan Siraja Batak yang bergelar Ompu Tuan Sorimangaraja III yang kemudian menurunkan Guru Tabeanbulan dan Siraja Isumbaon. Mengingat pada masa itu belum ada aksara atau tulisan, maka tidak diketahui nama individu satu persatu mulai dari leluhur orang Batak yang pertama mendarat di pulau Sumatra hingga sampai ke Ompu Tuan Sorimangaraja III tersebut yang juga sering disebut sebagai Siraja Batak . 
Hal yang kedua, yang perlu kita fahami bahwa pengertian RAJA, yang melekat pada penyebutan SIRAJA BATAK, jangan pula diartikan bahwa raja dalam arti  sebagai penguasa atau pemimpin sebuah kerajaan yang mempunyai wilayah territorial, memiliki istana memiliki pasukan dsb. Hal ini yang sering menjadi olok-olok mereka yang anti Batak yang mengatakan bahwa Siraja Batak, adalah raja yang tidak memiliki istana dan kekuasaan. Pengertian Raja dalam istilah Batak lebih cenderung kepada pengertian penerus generasi, sehingga kita juga sering mendengar istilah Raja Isumbaon. Raja Borbor. Raja Harahap, Raja Hasibuan dsb. 

Mengingat pada masa itu peradaban masyarakat batak masih sangat sederhana atau boleh dikatakan masih primitif dan masyarakat Batak masih menganut animisme atau Sipelebegu, sehingga pola pikir merekapun masih sangat terbelakang , misalnya dalam mengungkapkan mengenai asal usul orang Batak yang menurut mereka berasal dari langit, dan turun di Pusuk Buhit. Saya meyakini tidak adalagi orang Batak yang masih mempercayai hal ini, namun anehnya justru hal ini malah menjadi olok-olok oleh mereka yang tidak mengaku Batak tersebut terhadap kira orang Batak.

Pada zaman megalitikum menurut para ahli. masyarakat Batak masih hidup nomaden atau berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Mereka masih tinggal di goa-goa. Berpakain seadanya yang terbuat dari kulit kayu, sekedar menutupi tubuhnya .Bercocok tanam serta berburu binatang atau menangkap ikan sendiri. Membuat peralatan atau perkakas sendiri yang terbuat dari batu. Kemudian, sebagai masyarakat nomaden mereka mengembara kemana-mana sehingga terpisah antara kelompok yang satu dengan yang lain. Hal ini membantah apa yang dikatakan oleh mereka yang tidak mengaku Batak. Bahwa leluhur orang batak adalah hanya berdiam saja di Pusuk Buhit dan tidak pernah pergi atau mengembara ke wilayah lain.

Pada waktu itu belum terbentuk puak-puak Batak, apalagi marga-marga maupun adat Dalihan Natolu seperti sekarang ini. Namun pada fase ini bisa dikatakan adalah fase awal  pengembaraan masyarakat Batak ke delapan penjuru angin, seluruh tanah Batak, termasuk ke bagian selatan bahkan sampai ke wilayah MANDAILING sekarang ini. Sampai sekarang di Tapanuli bagian selatan masih ditemui suku-suku pedalaman yang merupakan sisa-sisa dari pengembaraan masyarakat batak tersebut. Suku tersebut diantaranya adalah Suku Lubu, dan Suku Ladang.

Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya, mengatakan bahwa dalam proses evolusi, suatu kelompok atau individu yang kuatlah yang mampu bertahan melanjutkan keturunannya, sedangkan yang lemah akan tertinggal bahkan akan punah karena tidak mampu bertahan dengan kondisi zaman yang dihadapi, demikianlah yang dialami oleh Suku Lubu dan Suku Ladang, sedangkan saudaranya yang lain mampu bertahan bahkan mampu membangun suatu peradaban yang maju di tanah Tapanuli bagian selatan ini yang akan kita bahas selanjutnya pada fase kedua terbentuknya bangsa Batak ini.

FASE KEDUA (100 M – 1030 M)
Setelah hampir seribu tahun lamanya dalam pengembaraan semenjak nenek moyang orang Batak perrtama kali mendarat di Pulau Sumatra ternyata ada salah satu satu dari sekian banyak kelompok masyarakat Batak yang kemudian berhasil mencapai suatu kemajuan dalam peradaban pada masa itu. Berdasarkan penelitian para akhli sekitar abad pertama Masehi telah berdiri Kerajaan Batak (Pa’ta) berkedudukan di Batahan (sekitar wilayah Natal sekarang). Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh pantai barat Sumatera, sampai ke bagian barat pulau Jawa yang dihuni oleh suku Badui provinsi Banten.

 Pada masa itu, bangsa Batak menganut suatu kepercayaan yang disebut Agama Malim; pimpinannya disebut RAJA MALIM, dibantu oleh para Nabi yang disebut Panurirang, dan para pengikutnya disebut PARMALIM. Berkaitan dengan pemerintahan, Raja Malim bertindak sebagai penasehat dan disebut Paniroi/Sitiroi. Kepala pemerintahan disebut SIRAJAI JOLMA yang bertindak sebagai Pemangku adat/Penegak hukum (Executip). Terbetik berita, bahwa pada masa jayanya Kerajaan Batak telah menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan lain seperti; Kerajaan Cola (India), Kerajaan Ming (Cina) dan bahkan telah memiliki semacam PERGURUAN  TINGGI AGAMA PARMALIM di Gunungtua, dimana masih terdapat sisa-sisa peninggalannya hingga sekarang, antara lain: Candi Portibi, Biaro Bahal, Sitopaon (Sitopayan) Candi Baral, Candi Pulo, Candi Sipamutung dll.

Candi-candi tersebut menandakan bahwa orang Batak telah mengenal pendidikan dan telah memiliki peradaban yang maju. Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Alexandria, Mesir, pada abad ke-2 Masehi juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang di kenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Barus begitu termasyhur namanya pada zaman itu, karena namanya sudah disebut-sebut sejak awal masehi oleh literatur-literatur Arab, India, Tamil, Yunani, Syria, Armenia, China dan sebagainya

Raja dari Sriwijaya yang muncul kemudian dan berkuasa di pantai timur pulau Sumatra, tidak pernah mengganggu keberadaan Kerajaan Batak di bagian barat; kabarnya, karena mereka masih ada hubungan keluarga/Ras yang sama; yaitu sama sama keturunan keluarga Sailendra, yaitu keluarga yang datang dari pulau Sai lam=Sai lan Ceylon (Thailand). Hal ini sesuai dengan yang telah dijelaskan diatas mengenai asal usul si Raja Batak yang berasal dari wilayah perbatasan antara Thailand dan Burma.

Pada tahun 1024, Raja Rajendra Cola Dewa dari negeri Cola menyerbu negeri Batak, hal ini kabarnya disebabkan ketersinggungan Raja Cola Dewa I atas hubungan dagang antara Kerajaan Batak Tua dengan Kerajaan Ming pada waktu itu, dan pada tahun 1029 Kerajaan Batak Tua dapat ditaklukkan setelah berperang selama 5 tahun. Raja negeri Batak ditangkap, tetapi tidak dibunuh; negeri itu ditinggalkan begitu saja tanpa pemerintahan.

Hal-hal yang perlu dicatat untuk fase kedua ini adalah sbb:
• Meskipun kerajaan Batahan ini terletak di Mandailing-Natal (Madina) sekarang, tetapi para ahli tidak pernah menyebut kerajaan tersebut sebagai kerajaan Mandailing, mengingat pada waktu itu belum dikenal penyebutan Mandailing maupun  Angkola, sehingga mereka menyebut sebagai kerajaan Batak tua, yaitu kerajaan pertama yang berdiri di tanah Batak.
• Penyebutan  Mandailing, didalam buku Negara Kartagama yang dikarang oleh Mpu Prapanca, tidak merujuk kepada masa kejayaan kerajaan Batak tua tersebut , karena kerajaan tersebut  runtuh setelah direbut oleh Rajendra Chola pada tahun 1030, Sedangkan Kerajaan Majapahit baru berdiri  dan masa Mpu Prapanca adalah padai abad 13 Masehi, jadi kemungkinan yang dimaksud Mandailing disini adalah wilayah bekas koloni dari Rajendra Chola yang telah ditinggalkan oleh masyarakat Batak.
• Istilah-istilah yang dipakai di kerajaan Batahan atau Kerajaan batak tua seperti RAJA JOLMA, RAJA MALIM atau PARMALIM adalah jelas jelas berasal dari BAHASA BATAK.
• Pada zaman itu kerajaan Batak tua telah sangat maju, yaitu ditandai dengan kekuasaannya yang begitu luas yaitu mampu menguasai pesisir barat pulau Sumatra, tentunya mereka telah memiliki armada laut yang cukup kuat dalam mempersatukan kerajaanya. Mampu menata pemerintahan dengan baik, mampu melakukan hubungan diplomasi/perdagangan dengan luar negeri serta memperhatikan masalah pendidikan dengan mendirikan Sekolah tinggi Agama Parmalim yang pertama  di tanah batak.
• Dengan kemajuan yang telah dicapai pada waktu itu diperkirakan pada fase atau zaman ini masyarakat batak mulai menerapkan adat dalihan Natolu dan telah mengenal tulisan atau aksara, seperti apa yang dikatakan oleh Prof. Uli Kozok bahwa aksara Batak mula-mula dari selatan baru ke utara (toba, simalungun. Karo dan Pakpak)
• Pernyataan para ahli yang menyebutkan bahwa Bandar Barus sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, hal ini sangat masuk akal apabila dikatakan bahwa leluhur orang Batak yang pertama pun mendarat  di Barus.
• Sebelum masuknya agama-agama dari luar seperti Hindu, Budha, Islam maupun Kristen, orang Batak telah menganut Agama Parmalim. Meskipun dalam perjalanannya agama Parmalim mendapat pengaruh dari agama-agama tsb.
 

FASE KETIGA (1030 M – 1400 M)
Fase ketiga ini adalah masa keruntuhan dari kerajaan Batak Tua, yang mana kemudian para pengikut Siraja Batak memindahkan kerajaan mereka ke wilayah Portibi, atau Gunung Tua Padanglawas utara (Paluta) sekarang.

Orang Angkola mungkin berbangga hati, bahwa Siraja Batak, ataupun kebudayaan Batak berasal dari Angkola, termasuk juga dengan aksara Batak adat serta budaya dan sebagainya, namun perlu disadari bahwa pada waktu itu atau pada fase ketiga ini belum ada munculnya marga-marga, yang merupakan identitas sebagai orang Batak, yang mana marga-marga seperti yang kita kenal sekarang baru muncul pada fase berikutnya. 

Ada 2 versi mengenai eksodus nya Siraja Batak ini dari Portibi – Gunung tua ke Sianjur mula-mula :
Versi Pertama
Prasasti yg ditemukan di Portibi yang bertahun 1208 dan dibaca oleh Prof. Nilakantisari seorang Guru Besar ahli Kepurbakalaan yang berasal dari Madras, India menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan Cola dari India menyerang Sriwijaya dan menguasai daerah Barus, pasukan dari kerajaan Cola kemungkinan adalah orang-orang Tamil karena ditemukan sekitar 1500 orang Tamil yang bermukim di Barus pada masa itu.Tamil adalah nama salah satu suku yang terdapat di India.

Kemungkinan besar leluhur dari siRaja batak adalah seorang pejabat atau pejuang kerajaan Sriwijaya yang berkedudukan di Barus karena pada abad ke12 yang menguasai seluruh nusantara adalah kerajaan Sriwijaya di Palembang.

Akibat dari penyerangan kerajaan Cola ini maka diperkirakan leluhur siRaja Batak dan rombonganya terdesak hingga ke daerah Portibi sebelah selatan Danau Toba dan dari sinilah kemungkinan yg dinamakan siRaja Batak mulai memegang tampuk pemimpin perang atau boleh jadi siRaja Batak memperluas daerah kekuasaan perangnya sampai mancakup daerah sekitar Danau Toba, Simalungun, Tanah Karo, Dairi sampai sebahagian daerah Aceh dan memindahkan pusat kekuasaanya di daerah Portibi disebelah selatan Danau Toba.

Pada akhir abad ke12 sekitar tahun 1275 kerajaan Majapahit menyerang kerajaan Sriwijaya sampai kedaerah Pane,Haru,Padang Lawas dan sekitarnya yang diperkirakan termasuk daerah kekuasaan si Raja Batak.

Serangan dari kerajaan Majapahit inilah diperkirakan yang mengakibatkan SiRaja Batak dan rombonganya terdesak hingga masuk kepedalaman disebelah barat Pangururan ditepian Danau Toba, daerah tersebut bernama Sianjur Mula Mula di kaki bukit yang bernama Pusuk Buhit,kemudian menghuni daerah tersebut bersama rombonganya.

Terdesaknya siRaja Batak oleh pasukan dari kerajaan Majapahit kemungkinan erat hubunganya dengan runtuhnya kerajaan Sriwijaya di Palembang karena seperti pada perkiraan diatas siRaja Batak adalah kemungkinan seorang Penguasa perang dibawah kendali kerajaan Sriwijaya.
Tetapi pada versi pertama ini mempunyai banyak kelemahan, karena tidak menjelaskan bagaimana kronologinya sehingga  Si Raja batak adalah atau bisa menjadi seorang pejabat atau pejuang kerajaan Sriwijaya yang berkedudukan di Barus. Selain itu juga tidak menerangkan apakah Siraja Batak dari Portibi atau Gunung tua beserta rombongannya langsung mengungsi ke Sianjur Mula-mula atau bagaimana. 

Versi kedua
 Jika dibandingkan dengan dengan versi pertama, versi kedua lebih masuk akal karena menjelaskan bagaimana suksesi terjadi setelah runtuhnya kerajaan Batak tua tersebut. Setelah jatuhnya Kerajaan Batak Tua (Batahan) sekitar tahun 1030, berbareng dengan munculnya kerajaan-kerajaan baru, pecahan dari Kerajaan Batak Tua, Raja Malim (Pimpinan agama Malim) dari Gunungtua, menobatkan menantunya menjadi raja, Sirajai Jolma (Kepala Pemerintahan) berkedudukan di Barus. Untuk menunjukkan bahwa dialah yang mulamula/pertama menjadi raja di Kerajaan Batak Barus, maka dinamakanlah RAJA MULA.

 Raja Mula digantikan oleh anaknya, yaitu RAJA DONIA, kemudian Raja Donia digantikan oleh anaknya RAJA SORIMANGARAJA BATAK I (Sorimangaraja = Sri Maharaja). Raja Sorimangaraja Batak I digantikan oleh anaknya yang kedua bernama NASIAK DiBANUA dan Nasiak Dibanua digantikan oleh anaknya, bergelar SORIMANGARAJA BATAK II. Tradisi awal para Raja Batak Barus selalu  mengambil isteri dari keluarga Raja Malim; kebiasaan ini bertujuan demi menjaga keserasian pemerintahan (Konstelasi politik); Raja Sorimangaraja Batak II memperisterikan putri Raja Malim juga.

Lalu apakah para pengikut atau rakyat dari Si Raja Batak beserta Raja Malim yang berada di Gunung Tua Paluta, ikut melakukan eksodus besar-besaran ke Barus?. Jawabannya kemungkin demikian adanya, penyebabnya:
1. Pemindahan kerajaan ke wilayah Portibi/Gunung Tua, bersifat sementara atau kondisi darurat  yaitu untuk menyelamatkan, pusaka-pusaka kerajaan beserta keluarga raja Batak Tua tersebut.
2. Penunjukkan wilayah Barus sebagai penerus kerajaan Batak, mengindikasikan wilayah bagian selatan ini termasuk wilayah Portibi/Gunung Tua sudah tidak aman lagi untuk tempat tinggal apalagi untuk mendirikan kerajaan.
3. Rasa tidak aman yang dirasakan oleh rakyat Batak itu, pertama meskipun RaJendra Cola dan pasukannya telah meninggalkan tanah Batak, tetapi masih banyak orang Tamil yang tinggal di wilayah bagian selatan ini dan tidak ikut kembali ke negerinya. Kedua: runtuhnya kerajaan Sriwijaya yang oleh para ahli dianggap sahabat dekat kerajaan Batak, Ketiga mulai datangnya kerajaan Majapahit dari pantai timur Sumatra yang menyerang kerajaan Haru.
4. Secara tradisi kerajaan Batak pada waktu itu, Raja Malim harus senantiasa mendampingi Raja Jolma dalam memimpin pemerintahannya.
5. Mandailing, Angkola dan Barus sejak dahulu kala telah mempunyai hubungan emosional yang begitu erat, itulah sebabnya pakaian adat/pengantin Mandailing, Angkola dan Tapanuli tengah (Barus) mempunyai kemiripan.

Pada masa pemerintahan Raja Sorimangaraja Batak II, orang Melayu Pagaruyung menyerbu Kerajaan Batak Barus; mereka dibantu oleh para saudagar Islam yang datang dari Gujarat ;perang itu memakan banyak korban. Melihat situasi yang tidak menguntungkan itu, Raja Sorimangaraja Batak II telah memperhitungkan, bahwa dia akan kalah perang, dengan cepat dialihkan kekuasaan pemerintahannya kepada Raja Malim Mutiaraja keponakannya itu (Paraman), dengan perjanjian setelah situasi sudah kondusif, kerajaan itu harus dikembalikan kepada ahli waris. Mereka mengikat perjanjian itu dengan suatu ikrar tanda barang pusaka, yang mereka namakan
"Tabutabu sitara pullang, ia sian i dalanna ro, ingkon tusi do dalanna sumuang," (Dari mana datangnya, harus kesitu juga kembalinya)
Sejak peristiwa pengalihan kekuasaan itu, Raja Mutiaraja memegang dua tampuk kepemimpinan, yaitu: selaku pimpinan agama disebut Raja Malim dan selaku Kepala pemerintahan (Sirajai Jolma), disebut Raja Uti. Pada awalnya, gelaran Kepala pemerintahan itu disebut Raja Unte (baca: Utte), hal ini berkaitan dengan kebiasaan Raja Mutiaraja selaku pimpinan agama (Raja Malim) yang selalu mempergunakan Jeruk purut (Unte pangir) didalam upacara-upacara keagamaan. Disebut juga Mutiaraja itu dengan sebutan Raja Mangalambung yang arti harfiahnya, menyamping/dari samping, karena dia bukan dari ahli waris.

Perkiraan Sorimangaraja Batak II tentang perang itu menunjukkan kebenarannya; dan bersama anaknya Sinambeuk, mati terbunuh dalam perang. Pada zaman itu sudah menjadi kebiasaan, bahwa semua keturunan raja yang kalah perang harus dibunuh agar tidak muncul kerajaan baru yang akan balas dendam; maka demi keselamatan, setelah Raja Sorimangaraja Batak II terbunuh, para keluarga raja melarikan diri. Konon kabarnya, setelah beberapa generasi kemudian, terbetiklah berita, bahwa
SIRAJA BAHAR  keturunannya bermukim di Desa Garo (Garo = Pisang) Karo
SiNAMBEUK keturunannya bermukim di Toba.
Si RAJA PAKPAK keturunannya bermukim di Dairi
JONGGOL NI TANO yang memperanakkan Raja Pandudu dan Raja Mante (Mantela) bermukim di Aceh Pidie 
RAJA NAGAISORI (Raja Mangaisori)  keturunannya  bermukim di Daerah Singkil & Tapak Tuan.

 Dari 5 orang putra Raja Sorimangaraja Batak II, hanya Sinambeuk yang mengambil isteri dari keluarga Raja Malim, yaitu saudara perempuan dari Raja Malim Mutiaraja. Dari perkawinannya itu, Sinambeuk memperoleh seorang putra yang dinamakan Si Raja Batak ; dia inilah yang kelak dikemudian hari mendirikan perkampungan Sianjur Mulamula di tanah Toba.

Siraja Batak yang merupakan putra dari Sinambeuk kemudian dikenal oleh pada umumnya orang Batak sekarang ini sebagai SIRAJA BATAK yang kemudian mempunyai 2 orang putra yaitu GURU TABEANBULAN dan SIRAJA ISUMBAON. Guru Tabeanbulan kemudian menurunkan Marga Borbor, Lontung dan Naimarata, kemudia Siraja Isumbaon, menurunkan marga-marga yang dikenal dengan sebutan Marga Sumba dan seterusnya seperti tarombo Batak yang kita kenal sekarang ini.

Hal-hal yang menjadi catatan kita pada fase ketiga ini adalah sbb:
• Kerajaan Batak di Barus sebagaimana dikatakan oleh para ahli sejarah merupakan kelanjutan dari Kerajaan Batak tua. Pada masa inilah mulai adanya catatan mengenai tarombo Si Raja Batak, seperti  yang  disebutkan diatas :
1. SIRAJAI JOLMA yang memerintah di Kerajaan Batak Tua, di Batahan, Mandailing Natal sekarang
2. SIRAJA MULA, melanjutkan kerajaan Batak Tua di Barus, yang kemudian dilanjutkan oleh keturunan-keturunannya seperti dibawah ini.
3. RAJA DONIA
4. RAJA SORIMANGARAJA BATAK I
5. NASIAK DiBANUA
6. SORIMANGARAJA BATAK II anaknya 3 orang yaitu:
1. Siraja Bahar
2. SiNAMBEUK
3. Sipakpak
4. Jonggol Nitano
5. Raja Mangisori (Nagaisori
7. SORIMANGARAJA BATAK III yang merupakan anak dari Sinambeuk
Atau SIRAJA BATAK yang mendirikan kerajaan di Sianjur Mula-mula.

• Sebagaimana,dikatakan oleh Prof Uli Kozok yang membagi suku Batak menjadi 3 bagian, berdasarkan kedekatan bahasa, budaya, letak geografis dan perjalanan sejarahnya yaitu : BATAK SELATAN, terdiri dari Mandailing, Angkola dan Toba. BATAK UTARA; Karo dan Pakpak, BATAK TIMUR : Simalungun.
• Kita dapat memaklumi bila banyak orang Karo, Pakpak dan Simalungun, tidak mengakui sebagai orang Batak atau keturunan Siraja Batak, karena mereka memang pada dasarnya bukan keturunan Siraja Batak, secara Biologis. Selain itu suku atau puak-puak seperti Pakpak, Karo dan Simalungun sudah eksis sebelum Siraja Batak lahir. Namun demikian saya yakin bahwa orang Pakpak, Karo maupun Simalungun tidak akan menolak apabila dikatakan bahwa mereka mempunyai leluhur yang sama dengan saudara-saudaranya puak Mandailing, Angkola dan Toba, yaitu nenek moyang Orang Batak yang datang di Pulau Sumatra.
• Terbentuknya marga-marga seperti sekarang baru dimulai beberapa generasi setelah siraja Batak, secara fakta dapat dikatakan bahwa marga-marga Batak tersebut terbentuk di Toba, ini merupakan fakta yang sulit untuk dibantah.
• Terbentuknya marga-marga tersebut mula-mula dimulai berdasarkan garis keturunan dari OMPU SORIMANGARAJA III atau SIRAJA BATAK, seperti keturunan Guru Tabeanbulan dan Si Raja Isumbaon dan seterusnya sampai kebawah.

Mengingat pada waktu itu populasi masyarakat Batak sudah begitu banyak dan tidak pula semuanya mempunyai hubungan darah ke Ompu Sorimangaraja. Maka terjadilah penggabungan atau masuknya seseorang atau kelompok tertentu ke marga-marga yang mempunyai hubungan darah langsung ke Ompu Sorimangaraja. Kemudian berdasarkan kesepakatan para pemuka adat pada waktu itu dengan melihat kepada hubungan kekerabatan ADAT DALIHAN NATOLU antara satu fihak dengan marga tertentu, misalnya keturunan Siraja Malim yang berasal dari selatan kemudian menjadi Hula-hula dari fihak Raja-raja atau penguasa di Toba, dan dimasukkan lah mereka kedalam kelompok atau bergabung dengan keturunan TABEANBULAN, sebagai pemberi anak perempuannya ke pada pihak BORU, raja-raja di Toba yaitu kelompok marga Sumba atau keturunan SIRAJA ISUMBAON.
• Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tidak semua-semua marga-marga Batak ini mempunyai hubungan darah langsung dengan Siraja Batak, sehingga tidak semua orang yang semarga juga mempunyai ikatan darah yang sama.
• Secara hubungan kekerabatan antara orang Angkola/Mandailing adalah sebagai fihak Hula-hula sedang orang Toba/Humbang sebagai fihak Boru.

FASE KEEMPAT (1400 M – SEKARANG)
Fase keempat ini adalah fase migrasinya pendatang dari wilayah Toba, Humbang dan sekitarnya yang kembali untuk membebaskan wilayah bagian selatan dari cengkraman penjajahan bangsa Tamil, sekaligus memperluas wilayah pemukiman mereka.

Dengan terjadinya perkembangan marga-marga di tanah Batak, meskipun adat Dalihan Natolu mampu menyatukan masyarakat Batak, tetapi perasaan superiotas antara kelompok yang satu dengan yang lain tetap saja ada. Hal ini adalah sesuatu yang wajar, terlebih lagi apabila hal tersebut menyangkut masalah kehidupan sehari-hari seperti lahan  yang tidak mencukupi lagi untuk bertani dan memelihara ternak dsb. Kemudian timbullah pengelompokkan-pengelompokkan marga berdasarkan kedekatan tarombo, misalnya Kelompok Borbor, kelompok Lontung dsb.  Latar belakang pengelompokkan ini disebabkan populasi sekeliling danau toba semakin lama semakin bertambah terus jumlahnya, hal ini terkadang sering menyebabkan terjadinya perebutan tanah atau wlayah antara marga yang satu terhadap marga yang lain, seperti yang disebutkan diatas. Misalnya keturunan Si Raja Isumbaon diantaranya Sibagot ni Pohan merasa perlu memperluas wilayahnya. Hal ini menyebabkan marga-marga Borbor semakin terdesak misalnya marga Sipahutar harus merelakan kampung mereka diambil alih oleh marga Silitonga sehingga marga Sipahutar harus meninggalkan kampung halamannya dan bahkan ada yang ikut bermigrasi ke wilayah Angkola, begitu juga marga Harahap harus menyingkir dari Huta yang pertama kali di buka oleh marga Harahap di NAGASARIBU – Humbahas sekarang, akibat terdesak oleh keturunan Sibagot Ni Pohan tsb.  

Yang menjadi alasan orang Batak pada waktu itu bermigrasi kembali ke wilayah selatan ini salah satunya adalah karena mereka merasa perlu membuka pemukiman baru, mengingat mereka harus berperang dengan marga lain untuk memperebutkan wilayah pemukiman. Alasan yang kedua mereka ingin membebaskan tanah bagian selatan yang masih dikuasai  oleh orang-orang Tamil, karena meskipun Rajendra Cola dan pasukannya telah kembali  kenegrinya, ternyata masih banyak orang-orang Tamil yang masih tinggal di Tapanuli bagian selatan ini. Alasan yang ketiga adalah karena mulai masuknya orang-orang dari Pagaruyung Minangkabau ke daerah Mandailing bahkan sampai ke wilayah Barumun.

Migrasi yang dilakukan oleh masyarakat Batak dari Toba dan Humbang ke wilayah selatan ini tidak dilakukan secara langsung, melainkan dengan cara bertahap, yaitu dengan cara nomaden atau berpindah-pindah, hal itu disebabkan oleh karena alat transportasi yang digunakan masih sederhana pada waktu itu, serta belum ada jalan-jalan yang menghubungkan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain, sehingga perlu menebas hutan terlebih dahulu, serta perlu perbekalan yang cukup, sehingga mau tidak mau masyarakat Batak yang hendak bermigrasi tersebut perlu tinggal lama disuatu daerah sebagai tempat untuk transit dengan bertani atau bercocok tanam sebagai bekal untuk meneruskan pengembaraan mereka. 

Marga Pulungan dan Lubis adalah yang pertama bermigrasi ke wilayah Mandailing. Marga Pulungan menjadikan wilayah Batang Angkola sekarang sebagai tempat transit, lalu kemudian barulah mencapai wilayah kerajaan mereka sekarang di Huta Bargot Mandailing. Begitu juga dengan Marga Lubis, dari kampung asal mereka di Haunatas Toba Samosir, dengan mengambil route melewati Tarutung dan Pahae, tibalah mereka di Angkola, di Lobu Layan dan Sipirok, marga Lubis kemudian menurunkan marga HUTASUHUT.

Adapula beberapa marga yang datang dari toba dan Humbang, seperti  Munthe atau Dalimunthe  (Ompu Jolak Maribu), Siregar, Hasibuan, Dasopang ,Rambe serta Harahap yang menuju Angkola dan Padang lawas. Dengan kedatangan para pendatang dari utara ini menyingkirlah orang – orang Tamil yang masih berada di sekitar Angkola dan Padang lawas, mereka kemudian pindah ke wilayah Mandailing dengan menyusuri sungai Batang Gadis, lalu akhirnya mereka menjadi penambang emas disana. Sepeninggal orang-orang Tamil tersebut dibagi-bagilah tanah Angkola dan Padang lawas untuk bertani dan beternak di wilayah itu. 
Antara lain:

HARAHAP
Kedatangan marga Harahap ke Angkola dapat dikatakan suatu hal yang fenomenal yang  tertulis di buku Borbor Marsada sbb: 
Siraja Hatioran (Datu Singa), i ma naumpompar marga Harahap. Rap borhat do ibana muse nasida sian i dompak Parparean. Sian i ma Sariburaja marsolusolu tu Sigumpar. Anggo Raja Hatioran laho do dompak Habinsaran, sian i muse tu Pangaribuan jala ditorushon muse tu Silantom sahat tu Angkola..
 Marga Harahap yang sejak masih berada di Toba mempunyai mata pencaharian sebagai penggembala lembu dan kerbau. Dalam perjalanannya bermigrasi ke selatan ini marga Harahap beserta rombongannya ikut pula membawa ternak mereka, dan mengembara secara nomaden di setiap wilayah  yang dilaluinya Harahap selalu membuka huta, dan ada saja diantara rombongan marga Harahap yang menetap di wilayah tersebut dan tidak ikut melanjutkan perjalanannya, Itulah sebabnya marga Harahap mempunyai wilayah yang paling luas dibandingkan marga-marga yang lain.

Dalam tempo singkat Harahap menjadi penguasa tanah Batak bagian selatan ini. Harahap juga menjadi pemersatu marga-marga Borbor. Banyak cabang-cabang marga Borbor ini yang kemudian masuk ditabalkan bergabung menjadi marga Harahap. Marga Pasaribu generasi awal yang ikut bermigrasi ke wilayah selatan ialah Pasaribu Bondar. Pasaribu mempunyai tiga cabang sesuai dengan leluhurnya yaitu Habeahan, Bondar dan Gorat. Siraja Bondar lah yang kemudian menurunkan Pasaribu Bondar. Si Raja Bondar, memiliki 3 orang putra yaitu Pangulu Raja, Siraja Pultak dan Siraja Gordang, dari ketiga putranya hanya putranya yang tertua yaitu Pangulu Raja lah yang sampai sekarang menurunkan marga Pasaribu Bondar, sedangkan kedua putranya yang lain yaitu Raja Pultak dan Raja Gordang dan seluruh keturunan mereka ditabalkan masuk menjadi marga Harahap sebagaimana yang tertulis di buku Borbor Marsada dibawah ini:
 
Ia Raja Pultak dohot anggina Raja Gordang morot ma jolo tu Bahalbatu alai morot muse do tu Pagarsinondi, sian i ma tuat tu Rura Silindung. Maringanan ma Raja Gordang di Hutabarat jonok tu aek situmandi, anggo hahana Raja Pultak di Simarangkir do marhuta. Dung manang sadia leleng di si borhat do ibana dompak Pahae, pinadatu do ibana di angka huta na binolusna sahat tu Angkola, maringanan ma ibana di Pargarutan, digoari halak ma ibana disi Datu Dibagona. Nunga torop disi dapotsa pomparan ni borbor i ma marga Harahap. Dipasaor ma dirina dohot dongan sabutuhana i gabe marga Harahap.

Setelah Siraja Pultak pindah ke Angkola dan ditabalkan menjadi marga Harahap, Si Raja Gordang kemudian ikut menyusul ke Angkola dan juga ditabalkan menjadi Harahap, keturunannyalah yang kemudian dikenal dengan sebutan HARAHAP SIDAKKAL, ompung mereka adalah SUTAN MAUJALO, makamnya sampai sekarang masih ada di Padang Sidimpuan. 

Hal tersebut menyebabkan Marga mempunyai banyak cabang sesuai dengan wilayah atau kerajaannya seperti Harahap Pargarutan, Harahap Mompang, Harahap Batunadua, Harahap Pijor Koling, Harahap Simatoktong, Harahap Simataniari, Harahap Batang Onang, Harahap Sipaho, Harahap Babiat, Harahap Sidakkal dan sebagainya.

SIREGAR.
Marga Siregar mendirikan Kerajaan yang berpusat di Sipirok, dengan wilayahnya mulai dari Sipirok, Saipar Dolok Hole, sampai Aek Bilah. Persengketaan antara marga Siregar dengan keluarga Sisingamangaraja (marga Sinambela) menyebabkan marga Siregar harus mengungsi ke wilayah Humbang sekarang lalu kemudian ke Sipirok, kedatangan rombongan marga Siregar ini, kemudian menambah atau memperkuat posisi marga Siregar sebagai salah satu penguasa wilayah  Angkola, selain Moranya Harahap sekaligus pula sebagai marga pemersatu dari kelompok Lontung di Angkola dan Sipirok. Dimana banyak terdapat marga-marga Lontung yang lain kemudian masuk menjadi Siregar, Inilah yang menyebabkan populasi marga Siregar yang berada di selatan ini jauh lebih besar dibandingkan dengan populasi marga Siregar yang berada di Toba, Hal ini dapat dimaklumi, karena kalau di Toba, Siregar hanya identik dengan wilayah Muara, itupun harus berbagi dengan marga Aritonang, tetapi di Angkola dan Sipirok, Siregar identik dengan sebuah kerajaan,

MUNTHE/DALIMUNTHE (Kelompo PARNA) :
Marga Munthe dengan tokohnya yang legendaris yaitu Ompu Jolak Maribu bermigrasi ke selatan melalui Sibalanga Garoga kemudian menyeberang ke wilayah Angkola yaitu di Sihulambu kec. Aek Bilah sekarang. Berkampung bersama-sama dengan Siregar Dongoran disana. Sebagian diantaranya ada yang merantau ke Padang Lawas dan Labuhan Batu. Di wlayah ini Marga Munthe kemudian dikenal pula dengan sebutan DALIMUNTHE. Marga Dalimunthe kemudian melanjutkan pengembaraannya sampai ke Angkola Jae kemudian mendirikan kerajaan di Sigalangan, Angkola Jae.
Selain marga Dalimunthe/Munthe, marga Parna yang lain yang tercatat mempunyai huta di Padanglawas adalah marga SIMBOLON.

HASIBUAN
 Marga Hasibuan hampir sama dengan marga Dalimunthe yang datang ke wilayah selatan melalui Garoga, lalu menyeberang ke wilayah Angkola yaitu di Sihulambu, kec. Aek Bilah sekarang, bersama-sama dengan marga Dalimunthe dan Siregar Dongoran mereka menempati wilayah ini. Kemudian marga Hasibuan ada yang menempati Halongonan-Paluta dan juga ke Labuhan Batu. Tetapi setelah kedatangan marga Harahap Sidakkal, ke wilayah Halongonan, marga Hasibuan pindah ke wilayah Barumun dan Hasibuan, sehingga marga Hasibuan menjadi raja di wilayah ini. Marga Hasibuan ada pula yang merantau dan membuka huta di Mandailing, wilayah sekitar Kotanopan sekarang.

RAMBE
Marga Rambe salah satu marga yang datang dari Pakkat-Humbang, selain marga SIMAMORA yang datang ke Padanglawas. Marga Rambe pertama membuka huta di Aek Pisang. Sipiongot, Paluta.

DASOPANG (SITOMPUL)
Marga Dasopang datang dari Balige Toba samosir, menempati wilayah Pangirkiran – Paluta. Meskipun marga Dasopang ini tidak terlalu banyak populasinya tapi, marga ini termasuk marga-marga generasi awal yang datang ke selatan, Marga Dasopang adalah salah satu marga yang mempunyai Tugu marga di Toba. Kalau di tarombo Batak, marga Dasopang ini adalah Hula-hula marga Borbor, karena salah satu istri dari Datu Dalu, adalah boru Dasopang yang melahirkan Raja Parapat yang kemudian menurunkan marga Parapat. Dari istri yang pertama yaitu si Boru Singguma, Datu Dalu memiliki anak yaitu marga Pasaribu (Habeahan, Bondar dan Gorat). Di Padanglawas, Dasopang tetap menjadi Hula-hula atau Mora bagi Harahap Sidakkal disana, dan dahulu marga Dasopang pernah menjadi Ulubalang Kerajaan Harahap Sidakkal di Gunung Tua, yaitu pada zaman Sutan Naga Harahap. Sutan Naga Harahap adalah ompung saya, yaitu 5 generasi di atas saya. 

PANE
Pane yang merupakan cabang dari marga SITORUS, sehingga sering disebut dengan SITORUS PANE, datang dari wilayah Porsea Toba samosir. Kemudian menempati wilayah Sipirok. Marga Pane ini sangat terkenal sebagai penulis-penulis novel di zamannya. St. Pangurubaan Pane adalah orang yang pertama menulis buku cerita berbahasa Angkola, dengan judul. TOLBOK HALEON. Diterbitkan pada tahun 1915, di Padang Sidimpuan. Putra dari St. Pangurabaan Pane yaitu Sanusi Pane adalah salah satu pendiri JONG BATAK BOND bersama-sama dengan Mr. Amir Syarifudin Harahap.

SAGALA
Sama halnya dengan marga Sitorus Pane, Marga Sagala yang datang dari Toba menempati Sipirok dan menjadi pihak boru dari marga Siregar disana.

PASARIBU
Pada periode berikutnya setelah kedatangan Pasaribu Bondar ke Angkola, marga Pasaribu banyak yang melakukan migrasi ke selatan. Mereka menempati wilayah Batang Toru, menempati kecamatan  Marancar bersama-sama dengan Marga Siregar Sormin yang pindah dari Lumban Sormin Pangaribuan. Marga Pasaribu juga terdapat di Saipar Dolok Hole dan Sigolang di Aek Bilah.

POHAN SIMANJUNTAK
Pohan Simanjuntak diperkirakan berasal dari sekitar Balige, di Angkola mereka menempati Arse dan ada juga di wilayah Purba Sinomba – Paluta. Pohan Simanjuntak adalah pihak boru dari Harahap Sidakkal disana.

SIPAHUTAR / DAULAE
Dengan terdesaknya marga Sipahutar dari kampung mereka oleh marga Silitonga sebagaimana diuraikan diatas, menyebabkan banyak dari marga Sipahutar ini kemudian pindah ke Garoga Labuhan batu dan sebagian ikut bermigrasi ke selatan. Raja Sipahutar atau yang bergelar PARMATA SAPIHAK, adalah salah seorang tokoh yang ikut bermigrasi ke Angkola. Dengan menyusuri sungai Barumun akhirnya sampailah ke wilayah Padanglawas dan disana Parmata Sapihak menurunkan marga DAULAE, demikian informasi yang saya terima dari marga Sipahutar. Tetapi ada sedikit kontroversi mengenai keberadaan dari PARMATA SAPIHAK ini, karena marga Daulae di selatan mengatakan bahwa leluhur mereka yang bernama Parmata Sapihak tersebut adalah bermarga TAMBUNAN. Saya juga pernah menemukan bahwa ada Marga Harahap yang mengatakan bahwa leluhur mereka juga bernama Parmata Sapihak, memang secara logika bisa saja marga Sipahutar kemudian bergabung menjadi Harahap, karena di tarombo Borbor, Sipahutar ini mempunyai kedekatan dengan Harahap, dimana leluhur mereka adalah kakak beradik, seperti halnya Keturunan Pasaribu Bondar yang bergabung menjadi Harahap. Saya berharap  kedepan ada pihak-pihak yang berkepentingan maupun yang terkait dapat meluruskan masalah ini

Sebetulnya masih banyak lagi marga-marga yang bermigrasi dari Toba maupun Humbang yang tidak mungkin satu persatu kita uraikan disini tetapi paling tidak marga-marga diatas dapat menggambarkan marga-marga yang dominan di wilayah Tapanuli bagian selatan. Selain itu wilayah Angkola berbatasan langsung dengan Toba, sehingga wilayah Budaya Batak Angkola dengan wilayah Budaya Batak Toba, maupun Silindung sulit kita mengetahui batas-batasnya, karena ada beberapa wilayah di Tapanuli Utara yang masih termasuk wilayah budaya Angkola sampai seperti Pahae, Pangaribuan dan Garoga.

Dengan kedatangan para pendatang atau imigran dari utara tersebut, dalam waktu singkat berdirilah kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Angkola dan Mandailing. Sejak ribuan tahun masyarakat dan para raja-raja di Tanah Batak telah menerapkan filosofi adat Dalihan Natolu yang bukan saja mampu mempersatukan masyarakat Batak tetapi juga mampu menaklukkan kerajaan-kerajaan disekitarnya. Pada dasarnya orang Batak selalu berusaha menghindari konflik, orang Batak lebih mengandalkan otak daripada otot, orang Batak selalu menggunakan strategi dalam menundukkan para pesaingnya tanpa perlu menumpahkan darah setetespun

Agar tidak terjadi peperangan antar kerajaan biasanya raja-raja di Tanah Batak memberikan putri-putri kerajaan agar diperistri oleh raja-raja di sekelilingnya sehingga dengan demikian maka dapat dijamin para kerajaan-kerajaan yang berada disekitarnya tersebut tidak mungkin akan menyerang kerajaannya, bahkan dapat djadikan sekutu untuk menghadapi musuh-musuh yang akan menyerang kerajaannya.

Di tarombo marga Pulungan disebutkan bahwa raja dari marga Pulungan yaitu SUTAN PULUNGAN pernah berkunjung ke Dairi dan sampai ke BARUS, lalu sesampainya disana, sebagai Boru Pangayoman, di negeri HUTALIMA beliau di anugerahi istri BORU PARDOSI, hal ini sesuai dengan Tambo Barus yang juga menyebutkan bahwa pada masa itu Barus diperintah oleh marga Pardosi. Boru Pardosi, Istri Sutan Pulungan tersebut terlebih dahulu dititipkan di Huristak Padang Bolak selama 8 bulan, baru kemudian diantarkan ke Hutabargot – Mandailing. Sesampainya di sana istri pertama Sutan Pulungan tidak berkenan dan  tidak membiarkan istri muda Sutan Pulungan yang bernama si Saua tersebut untuk masuk kedalam rumah. Si Saua yang sedang hamil tua hanya diperkenankan tinggal diluar rumah sampai ia melahirkan seorang anak laki-laki, karena mereka tinggal di luar rumah maka anak dari Si Saua dan Sutan Pulungan tersebut dijuluki orang SI BAROAR yang berasal dari kata Bagas Ruar yang artinya rumah luar, setelah Si Baroar dewasa karena kesaktiannya ia dijuluki orang NASAKTION yang akhirnya menjadi NASUTION. Nasution bersama-sama dengan marga Pulungan dan Lubis inilah yang kemudian menjadi raja-raja di Mandailing sampai sekarang.

Selain marga-marga diatas, datang pula marga-marga Borbor yang lain seperti TANJUNG, BATUBARA, dan MATONDANG. Selain itu terdapat pula beberapa pecahan marga Borbor lainnya yang merupakan keturunan Raja Parapat diantaranya : RANGKUTI, MARDIA dan PARINDURI. Sehingga dapat dikatakan bahwa 90% masyarakat Mandailing adalah termasuk marga-marga Borbor atau keturunan dari Saribu Raja yang masuk kedalam kubu Guru Tabeanbulan.

Pada mulanya para pendatang dari utara ini masih tergantung terhadap raja-raja di Utara tapi setelah mereka kuat dan mampu berdiri sendiri, serta mempunyai kerajaan sendiri, maka mulailah berdiri PUAK MANDAILING dan PUAK ANGKOLA. Puak Mandailing yang dikuasai oleh marga PULUNGAN, LUBIS dan NASUTION. Puak Angkola yang dikuasai oleh marga HARAHAP dan SIREGAR.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa Pada masa pemerintahan Raja Sorimangaraja Batak II, orang Melayu Pagaruyung pernah menyerbu Kerajaan Batak Barus yang  dibantu oleh para saudagar Islam yang datang dari Gujarat. Pada mulanya orang dari Pagaruyung atau Minangkabau hanya menguasai pesisir tapanuli saja, tetapi ketika orang Batak dari utara tersebut tiba di Mandailing, mereka sudah mulai banyak yang memasuki wilayah pedalaman Mandailing. Dibuatlah perdamaian dengan orang Minangkabau tersebut terjadilah akulturasi budaya antara orang Minangkabau dengan orang Batak, khususnya di Mandailing. Orang Minangkabau pun mulai menggunakan marga Batak, yang  pada umumnya mereka menyandang marga Nasution. Kemudian datang pula orang Bugis, salah satu tokohnya yang terkenal adalah Daeng Malela, Karena keahliannya didalam menempa besi untuk membuat pedang untuk berperang, maka dia di anugerahi gelar NAMORA PANDE BOSI, dan keturunannya berhak menyandang marga Lubis. Oleh Raja Dalimunthe di Sigalangan dia diangkat menjadi menantunya.

Selama ratusan tahun orang Batak asili hidup berdampingan dengan damai bersama mereka orang pendatang. Adat serta budaya maupun bahasa yang dipakai oleh mereka jelas-jelas adat budaya Batak, tidak banyak adat budaya maupun bahasa yang dibawa dari tempat asalnya. Bahkan orang Minangkabau yang di tempat asalnya semula berdasarkan garis ibu, di Mandailing mereka menggunakan garis keturunan dari pihak Bapak atau Patrilineal.

Hanya sedikit yang membedakan antara mereka yang Batak asli, dan mereka yang pendatang. Tetapi didalam pergaulan mereka sehari hari  dengan orang Batak, biasanya mereka agak tertutup terutama bila memperbincangkan silsilah atau tarombo.  Mereka yang leluhurnya pendatang tentu menyadari apabila silsilah mereka akan berbeda dengan orang Batak asli yang akan berujung pada si Raja Batak. Sebaliknya orang Batak begitu asyik bila membicarakan tarombonya terlebih lagi bila bertemu diperantauan. Orang Batak begitu bangga dengan marga dan tarombonya. Timbullah gap atau jurang pemisah antara mereka yang Batak dan bukan Batak meskipun sama-sama memakai marga.  Lambat laun  hal ini yang kemudian hari menjadi penyebab mengapa orang Mandailing yang merupakan keturunan pendatang menolak bahkan membenci Batak.   

Di Tapanuli bagian selatan ini penduduk aslinya tidak merasakan usaha pembatakan yang dilakukan oleh orang Toba terhadap mereka. Hal ini berbeda dengan di Pakpak, Karo maupun Simalungun. Karena pada dasarnya justru orang Tabagsel inilah yang melakukan pembatakan terhadap orang Toba dahulunya, begitu pula orang Angkola pula seperti Mr. Amir Syarifudin Harahap dan Sanusi Pane yang pertama kali mendirikan Perkumpulan pemuda Batak yang pertama di Indonesia.

Sebaliknya bagi mereka keturunan pendatang di Mandailing menganggap  bahwa kedatangan para migran dari Utara akan menjadi ancaman  bagi  keberadaan mereka di Mandailing, padahal mereka  merasa telah beberapa generasi tinggal di Mandailing,  selain itu mereka memeluk agama yang sama dengan pada umumnya orang Batak di Tabagsel ini, tetapi disisi lain mereka tidak menyukai Batak khususnya para pendatang dari utara tsb.
Pada mulanya rasa ketidaksukaan mereka terhadap Batak pada waktu itu tidak ditunjukkan secara terang terangan atau terbuka tetapi dengan cara yang halus, antara lain : 
1. Membuat cerita-cerita bohong   yang menjelek-jelekan Siraja Batak seperti yang sering kita jumpai di group-group Mandaling Bukan Batak (MBB), cerita – cerita seperti ini sudah ada sejak dahulu yang dibuat oleh orang-orang tua mereka,  misalnya bahwa Siraja Batak itu adalah seorang budak yang diusir dari Mandailing lalu dibuang ke toba.  Karena pada umumnya marga-marga dari Toba selalu dimulai dengan kata “SI”, inilah yang kemudian mereka katakan sebagai bukti bahwa benar orang Batak adalah keturunan budak, cerita legenda “Si Boru Deak Parujar, yang mereka katakan wanita tak bermoral yang kemudian menurunkan Siraja Batak.
2. Membesar-besarkan mitos tentang SiRaja Batak yang mengatakan bahwa SiRaja Batak turun dari langit dan bersemayam di Pusuk Buhit, padahal di Zaman sekarang ini, sudah tidak ada lagi orang Batak yang mempercayai mitos tersebut.
3. Mengaburkan atau memutar balikkan fakta sejarah, misalnya tentang tokoh yang bernama NAMORA PANDE BOSI, yang mereka klaim tokoh tersebut adalah Daeng Malela seorang pelaut yang berasal dari Bugis, yang kemudian keturunannya diberi marga Lubis. Menurut Tarombo Marga Pulungan, bahwa Namora Pande Bosi yang asli adalah keturunan dari DATU PULUNGAN TUA atau SAHANG MAIMA, salah satu keturunannya adalah TUMONGGO LUBIS, cucu dari Tumonggo Lubis inilah yang datang dari Haunatas Toba merantau ke Sigalangan Angkola Jae, kemudian menurunkan marga Lubis di Mandailing dan marga Hutasuhut di Angkola,  
Ternyata propaganda tersebut tidak membawa hasil sesuai dengan yang mereka inginkan, masyarakat yang asli Batak tentunya memiliki tarombo marganya masing-masing, yang berujung kepada SiRaja Batak. Hal ini semakin membuat mereka yang keturunan bukan Batak tersebut semakin menjadi-jadi kebenciannya terhadap Batak. Mereka tidak kehabisan akal, lalu dimainkanlah isu agama, dengan tujuan menciptakan suatu opini bahwa Kristen identik dengan Batak, sedangkan Islam identik dengan mereka yang tidak mengakui Batak. 

Strategi mereka  yang menggunakan isu Agama ini  ternyata gagal total, karena kemudian justru orang-orang Angkolalah yang pertama kali mendirikan perkumpulan pemuda Batak JONG BATAK BOND

Sumber : harahap dohape

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BARUMUN SEBAGAI JALUR TRANSPORTASI ( I ) : BANDAR BARUMUN